Arti Seorang Sahabat

ini CERPEN perdana Sekar..🙂

AWAL MASUK SEKOLAH

“ Dinda, bangun sayang”, mama membangunkanku.

“ Emh..! bentar lagi deh ma “ sahutku.

“Dinda ayo bangun dong sayang, ini kan hari pertama kamu masuk sekolah setelah libur panjang”, ujar mama sambil membelai lembut rambutku.

“Iya mamaku sayang” jawabku sambil meloncat bangun dari tempat tidur. Kuusap mataku yang masih sedikit tertutup, kemudian aku bergegas mengambil handuk dari gantungannya dan akupun bergegas menuju kamar mandi. Seusai mandi, aku melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan keluargaku. Itu memang sudah menjadi tradisi di keluargaku. Seusai shalat subuh, aku berlari ke kamarku untuk bersiap diri.

Setelah bersiap diri, akupun berlari menuju lantai bawah untuk sarapan roti dan susu hangat kesukaanku. Seusai sarapan, aku berpamitan pada papa, mama dan langsung pergi ke sekolah. Untuk sampai di sekolah, aku harus rela mengantri di halte bus dekat rumahku. Karena untuk dapat sampai di sekolah aku harus berhenti di halte dua kali dan akupun harus naik kendaraan umum yang akan mengantarkanku hingga sampai di sekolah.

Kendaraan pertama yang kutunggu akhirnya tiba. Langsung saja aku berdesakan dengan penumpang lain yang berebut ingin masuk dahulu untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Setelah mendapat tempat duduk, aku mencoba untuk menikmati keindahan alam yang kulewati. Karena pagi ini aku mendapat tempat duduk yang sangat nyaman, yaitu dekat dengan jendela. Sehingga aku dapat menikmati pemandangan di pagi hari yang masih bebas dari polusi.

Tak terasa, aku telah sampai di halte kedua. Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Agak lama aku menunggu, tetapi kendaraan umum itu tak kunjung datang. Aku mulai khawatir, kulirik jam tanganku…

“Ahh..sudah jam 06.20, bagaimana ini ?” gumamku. Aku sangat khawatir.

“Bagaimana kalau aku sampai terlambat ? bisa gawat kalau sampai aku terlambat” ucapku lirih.

Saat aku sedang diliputi rasa bingung, tiba – tiba ada yang memanggilku..

“Dinda..! bareng yuk..”

“Siapa ya ?” pikirku.

Ternyata Indra yang memanggilku. Spontan saja aku langsung menghampiri Indra yang berada di dalam mobil, tak jauh dari tempatku berdiri.

Aku pun masuk ke dalam mobil Indra.

“Tumben kamu bawa mobil sendiri ? biasanya ada Mang Kosim yang mengantarmu” tanyaku pada Indra.

Sambil tersenyum dia menjawab,

“Mulai saat ini, aku bawa mobil sendiri, karena papa mengijinkanku untuk membawa mobil ini” sahut Indra.

“Oh, begitu rupanya !” ucapku kemudian.

Setelah itu,suasana menjadi hening. Yang terdengan hanyalah suara mp3 mobil Indra yang mengalun dengan lirih. Tak lama kemudian, Indra bertanya padaku…

“Eh Din, gimana kalau besok dan seterusnya, kamu berangkat dan pulang bareng sama aku, untuk pulang dan pergi, aku kan ngelewatin rumah kamu. Gimana, kamu setuju nggak ?”,

“Boleh dicoba..!” jawabku.

Sampai di sekolah, aku bergegas menuju kelasku yang berada tak jauh dari tempat parkir. Saat akan menuju ke kelas, aku bertemu para sahabat – sahabatku. Mereka adalah Rina, Rizka, Winda dan Nara. Lalu kusapa mereka dengan salam khas yang telah kami buat satu tahun silam. Saat dimana pertama kali kami bertemu. Para sahabatku ini, selalu membantuku saat aku sedang mendapatkan masalah, begitu juga sebaliknya denganku. Aku senang sekali saat bersama mereka. Karena sudah banyak sekali suka dan duka yang kami alami bersama.

Sampai di kelas, masih beberapa anak saja yang sudah datang. Satu di antaranya adalah sahabatku, Alya.

“Alya…!” panggilku,

“Ada apa sih ? tumben kamu baru datang langsung panggil – panggil !” balas Alya.

“Aku mau cerita suatu hal sama kamu, ini Tentang Indra. Pentiiing banget !” ucapku sambil menaruh tas dengan tergesa – gesa.

Akupun menceritakan semua kejadian yang kualami pagi ini pada Alya. Dan Alya mendengarkan ceritaku dengan sangat serius. Sambil mangut – mangut dia berkata..

“Ternyata Indra itu orangnya perhatian juga ya. Nggak papa kali kamu bareng sama dia tiap hari, tapi hati – hati lho ! ntar lama – lama naksir lagi. He he he”,

“Iih.., jangan gitu dong” ucapku sambil mendengus dengan kesal.

Bel masuk berbunyi, aku dan Alya bergegas mengambil Al – Qur’an di lemari. Kemudian kami kembali ke bangku kami dan menyimak bacaan yang diberitahukan oleh guru pembimbing melalui speaker. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin bagi siswa/siswi madrasah, tempatku bersekolah ini. Aku memang bersekolah di sebuah madrasah elite di kota tempat aku tinggal. Nama madrasah itu adalah Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Malang atau nama kerennya MASANEGA.

Selesai membaca Al – Qur’an, aku menerima pelajaran dari guru B.Indonesia yang mengajar pada jam pertama ini. Pelajaran – demi pelajaran telah ku lalui. Tetapi hanya sebagian saja yang terekam di otakku. Karena aku terngiang oleh kata – kata Alya tadi pagi. Bagaimana tidak, selama ini aku jarang sekali mengobrol dengan Indra. Bahkan untuk memanggil Indra pun jarang kulakukan.

Bel tanda pulang berbunyi, semua murid kelas VIII E bersorak gembira, tak terkecuali aku. Setelah selesai berkemas, aku mengajak Alya untuk melaksanakan sholat Dhuhur berjamaah. Saat akan menuju ke musholla, kami berpapasan dengan Indra. Kemudian dia bertanya padaku,

“Mau kemana nih Din ?”,

“Mau ke musholla.” jawabku.

“Aku boleh ikut nggak ?” ucapnya lagi.

”Boleh” jawabku juga.

Kami bertigapun berjalan beriringan menuju ke musholla. Sesampai di musholla, aku dan Alya bergegas mengambil air wudhu karena mengingat waktu sholat Dhuhur sudah hampir habis. Begitupun yang dilakukan Indra. Selesai berwudhu, Indra menawarkan akan menjadi imam sholat berjamaah. Kujawab dengan anggukan kepala saja, dia pun tersenyum menbalas anggukanku. Alya yang sedari tadi melihatku, tersenyum menertawakanku. Tetapi, aku tidak menanggapi perlakuan Alya tersebut.

Sholat berjamaah berlangsung dengan sangat khusyuk. Suara merdu Indra yang menjadi imam sholatku kali ini sangat menyejukkan hatiku. Seusai sholat berjamaah, aku berpamitan pulang kepada Alya. Aku lupa bahwa tadi pagi Indra menawarkan agar aku bersedia berangkat dan pulang bersamanya.

“Dinda, tunggu..!” teriak Indra.

“Astaughfirullah Hal Adzim, maaf In aku lupa kalau kita akan pulang bersama siang ini” ucapku pada Indra yang sudah berjalan di sampingku.

Sampai di tempat parkir, aku langsung masuk ke mobil Indra. Begitu juga dengan Indra. Mobilpun melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Setelah perjalanan selama 45 menit. Akupun sampai di depan rumah. “Alhamdulillah !” batinku. Tak lupa kuucapkan terima kasih pada Indra yang mau memberi tumpangan kepadaku.

“Assalamualaikum” ucapku. Sepi, tak ada jawaban.

“Kemana semua orang di rumah ?” pikirku.

Setelah beberapa saat terdiam. Aku teringat sesuatu. Ya Allah, pantas saja di rumah tidak ada orang. Papa dan Mama kan sedang pergi ke luar kota dan adikku bermain ke rumah teman. Setelah mengingat hal itu, aku berlari ke kamar. Kutaruh tasku di tempat tidur, kulepas jilbab yang membalut kepalaku, lalu aku pergi ke kamar mandi untuk bersih diri, berganti pakaian dan berwudhu untuk melaksanakan sholat Ashar.

Seusai sholat Ashar, aku pergi kelantai bawah. Kuhampiri meja makan, kubuka tudung saji. Namun, tidak ada sedikitpun makanan yang berada di sana. Lalu, aku menuju ke dapur, kubuka lemari es. Hanya ada sosis dan nugget di lemari es. Setelah berfikir, akhirnya kuputuskan untuk membuat nasi goreng sosis kesukaanku.

Nasi goreng sudah habis kulahap. Selesai makan, aku ke kamar untuk beristirahat. Kucoba untuk memejamkan mataku. Tetapi tak bisa. Bangunlah aku. Kuambil handphone yang sedari tadi tak kurisaukan sama sekali. Ada 6 pesan masuk yang belum kubaca. Kulihat siapa saja yang mengirim pesan padaku. Mataku tertuju pada satu nomor baru yang mengirim pesan singkat yang berisi,

Hai Dinda..! ini nomor handphone aku, jangan lupa di save ya. Tadi siang aku lupa bilang padamu, kalau aku ingin meminta nomor handphonemu. Tetapi untung saja aku teringat Alya sahabatmu. Kutanya saja padanya lewat sms. Kamu pasti tahu siapa aku…

Orang yang baru saja akrab denganmu.

Aku berfikir, siapa kira – kira orang yang mengirim pesan itu. Seketika itu juga aku teringat Indra. Spontan saja, dalam hitungan detik aku langsung membalas pesan singkat itu. Kamu Indra bukan ? ketikku di pesan singkat itu. Setelah beberapa saat menunggu. Jawaban dari pengirim pesan itu tak kunjung tiba.

Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Kemudian aku teringat akan adikku.

“Astaugfirullah ! Dika..” Teriakku.

Aku berlari menuruni tangga, dan… hatiku sangat lega melihat Dika sudah tertidur pulas di sofa. Mungkin dia berfikir tidak ada orang di rumah. Jadi dia memutuskan untuk menonton televisi dan akhirnya tertidur di sofa. Aku berjalan ke kamar adik untuk mengambil selimut. Lalu kuselimuti tubuh adikku yang mungil itu.

Adzan maghrib berkumandang. Aku lalu membangunkan adik dari tidur pulasnya.

“Emh..! masih ngantuk nih kak !” ujar adikku.

“Biar nggak ngantuk lagi, kamu cepet mandi biar segar dan jangan lupa berwudhu terus langsung sholat Maghrib, Oke ?” ucapku.

“Oke kakakku yang bawel..” jawab adikku.

Seusai sholat Maghrib, aku menuju ke dapur untuk membuat makan malamku dan adikku. Kubuat saja sosis asam manis dan kugoreng nugget yang ada di lemari es. Selesai memasak, kupanggil adikku untuk makan malam bersama. Hening, tak ada yang berbicara. Aku maupun adikku sibuk dengan pikiran masing – masing. Seusai makan, aku kembali ke kamar dan melakukan kebiasaanku,belajar. Sebelum belajar, aku menunaikan ibadah sholat Isya’ dan tak lupa kuingatkan adikku yang lucu itu. Sholat telah kami laksanakan, tinggal satu kegiatan kami hari ini, belajar.

Selesai belajar, kulihat adikku di kamarnya. Ternyata dia sudah tertidur pulas. Kuselimuti dia dan kumatikan lampu kamarnya. Dan aku kembali ke kamarku untuk tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.

Alarmku berbunyi pukul 04.00 pagi. Adzan Subuh berkumandang saat aku terbangun. Dengan mata yang masih berat untuk di buka, aku ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka, gosok gigi dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Subuh. Seusai sholat Subuh, aku bergegas untuk mandi dan bersiap diri kemudian ke dapur untuk membuat sarapan pagi.

Setelah beberapa saat sibuk dengan masakan aku bergumam “Alamdulillah..! akhirnya selesai juga”.

Kuajak adikku yang sudah berseragam rapi itu untuk sarapan. Selesai sarapan, aku mengambil uang saku yang sudah mama siapkan di atas lemari es. Kemudian aku dan adikku berangkat bersekolah.

Aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Namun, betapa terkejutnya aku ketika melihat Indra menungguku tepat di depan rumah.

“Astaughfirullah, ternyata kemarin Indra bener – bener serius mau berangkat dan pulang bareng sama aku” gumamku lirih.

“Pagi Din..!” sapa Indra.

“Pagi juga..!” jawabku.

“Yuk masuk !” ajak Indra.

Aku pun menuruti kata – kata Indra. Setelah berada di dalam mobil, aku bertanya pada Indra…

“Jadi, beneran nih kamu mau ngajak aku untuk berangkat dan pulang bareng kamu tiap hari ?”,

“ Iya neng Dinda !” jawabnya sembari tersenyum.

”Jangan panggil neng dong, panggil aja nama aku” ucapku kemudian.

”Iya deh sorry, sorry !” jawab Indra.

Sampai di sekolah, kumulai aktifitas seperti biasanya. Tetapi ada sedikit perbedaan pada hari ini. Yaitu, ada seleksi pemilihan pengurus dan ketua OSIS baru untuk satu tahun ke depan. Lalu, betapa terkejutnya aku ketika aku tahu aku terpilih menjadi salah satu calon ketua OSIS. Dan keterkejutanku bertambah setelah mengetahui pesaingku. Mereka adalah Indra dan Rina, sahabatku. Di papan pengumunan tertulis nama Sinta Adinda Putri, Miranda Choirina dan Indra Perrmana Putra. Yah memang, satu tahun silam, aku, Indra dan Rina terpilih menjadi pengurus OSIS. Dan di OSIS kami terkenal sebagai salah satu siswa yang sangat aktif, baik dalam menghadiri rapat atau yang lainnya. Waktu pemilihan ketua OSIS pun semakin dekat. Test demi test sudah kami lalui. Hatiku semakin berdebar – debar.

“ Ya Allah, kuatkan aku..” batinku.

Akhirnya hari yang sangat kutakuti tiba juga. Hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Karena pada hari ini aku harus menyampaikan visi dan misiku di depan seluruh siswa / siswi madrasah. Dan hari ini adalah pertama kalinya aku akan berbicara di depan orang banyak.

Sebelum berangkat, aku meminta saran pada mama. Lalu, kutanya mama…

“Ma, gimana sih caranya supaya aku tidak gugup berbicara di depan teman – temanku ?”,

“Dinda, mau tahu caranya ?” Tanya mama meyakinkanku.

“Iya mama !”jawabku.

“Anggap saja, teman Dinda adalah semut – semut yang lewat di depan Dinda untuk mencari makan, dengan begitu rasa gugup Dinda akan berkurang dan mungkin jika Dinda sudah terbiasa dengan hal itu. Rasa gugup itu akan hilang sama sekali.” ucap mama dengan lembut.

Aku pun menuruti nasihat mama..

Saat di mobil bersama Indra, aku mencoba membuka pembicaraan.

“In, gimana udah siap belum untuk acara nanti ?” tanyaku.

“Insyaallah aku siap” jawab Indra.

“Aku takut nih In, beneran deh !” ceritaku.

“Takut sama apa sih neng Dinda ?, nggak ada yang perlu ditakutin. Ini adalah tantangan yang harus kita hadapi..” jawab Indra lagi, kali ini dia tersenyum sambil memandangku.

”Yah, moga – moga aja deh, acara nanti berjalan lancar !” sahutku lagi.

“Amin..” jawab Indra.

Setelah selesai acara. Aku sangat lega karena yang terpilih menjadi ketua OSIS adalah Indra. Tetapi, tak lama kemudian aku dikejutkan oleh suara P. Mario yang menyebut namaku sebagai wakil dari ketua OSIS. “What..? aku jadi wakilnya Indra, duh..gimana ini ?” batinku.

Kejadian ini lalu kuceritakan pada para sahabatku, yang saat ini sedang berkumpul untuk membahas masalah yang kualami. Aku memulai ceritaku.

“Sob, gimana nih ? aku terpilih menjadi wakil Indra ! padahal aku kan lagi ada sesuatu sama Indra. Aku juga nggak enak sama Indra. Soalnya, tiap hari aku pulang pergi sama dia, eh sekarang di sekolah, aku juga harus kesana kemari sama dia  “ ceritaku.

“Udah, nggak papa ! Jalani aja, siapa tahu kamu jodoh sama indra” ujar Rizka menggodaku.

“Kamu ini, ada – ada aja deh..” ucapku.

“Sekarang, gini aja Din. Aku tanya sama kamu, kamu sanggup kan menjalani semua itu dengan lapang dada dan penuh tanggung jawab ? dan aku yakin kamu pasti bisa melewati semua itu dengan senang hati.” Ucap Winda kemudian.

“Tenang Din, kalau kamu ada masalah, kita selalu ada untuk kamu” ujar Nara menambahi.

“Insyaallah aku sanggup menjalani semua ini, makasih ya sob !” jawabku sambil tersenyum penuh arti.

Perjumpaanku dengan sahabat – sahabat tercinta dan tersayang cukup sampai disini. Aku pun bergegas untuk pulang. “Ah, lega ! pasti Indra udah pulang” gumamku.

Ternyata dugaanku meleset. Indra menungguku di depan gerbang. Dia melambaikan tanggannnya padaku. Aku pun menghampirinya.

“Udah selesai ngumpul bareng sahabatnya ?” tanya Indra.

“Udah !” jawabku singkat.

Sesampai di rumah, aku  langsung berganti pakaian, berwudhu dan melaksanakan sholat Ashar yang tertunda karena keasyikanku bersama sahabatku. Seusai sholat, kurebahkan tubuhku di tempat tidur, terpikir oleh kejadian – kejadian yang cukup melelahkanku hari ini. Dan, tak terasa aku sudah terlelap. Mama yang melihat hal ini hanya geleng – geleng kepala. Duh, anak mama udah tidur.”  Ucapan mama itu masih sayup – sayup terdengar di telingaku.

TUMBUH CINTA DI AWAL ORGANISASI

Pagi ini, aku memulai kebiasaan baru. Yah, masa jabatanku dimulai pada hari ini. Dan, di hari yang cerah ini, aku harus membersihkan kantor yang akan menjadi tempatku berorganisasi selama satu tahun masa jabatan.

Kantor yang akan kutempati ini adalah sebuah ruangan kecil berukuran 4×5 meter persegi dengan perabotan yang sangat sederhana. Yaitu, sebuah meja dan 6 buah kursi yang ditata melingkari meja. Sendiri, kumulai pekerjaan yang menurutku lumayan ringan ini. Disela – sela waktuku membersihkan kantor OSIS, Indra tiba – tiba muncul dan mengejutkanku.

“Kok nggak bilang sih sama aku kalau kamu mau membersihkan tempat ini” Tanya Indra.

“Aku nggak mau ngrepotin kamu. Lagian ini tugas yang mudah kok !” jawabku.

“Tapi, ini kan ruang kerja kita bersama, jadi seharusnya kamu mengajakku untuk membersihkan ruangan ini” tegas Indra.

Seketika itu juga, wajahku memerah. Malunya aku diperingatkan Indra seperti itu. Tapi, apa dayaku. Semuanya sudah terlanjur dan terlewat. Kini aku mengerti bagaimana sifat dan kelakuan Indra sebenarnya.

“Ternyata Indra seorang pribadi yang baik dan bijaksana ya !” batinku dalam hati.

Selesai bersih – bersih, aku kembali ke kelas. Dengan wajah gembira, aku memasuki kelas. Alya yang melihatku tersenyum sendiri. Langsung saja menghampiriku.

“Ngapain kamu senyum – senyum sendiri kayak gitu din ?” Tanya Alya.

“Oh..! ini Al, aku lagi bahagiaa banget, habisnya Indra kayak ngasi perhatian lebih ke aku. Dan senangnya lagi, tadi di ngebantuin aku lho untuk membersihkan kantor OSIS” ceritaku.

“ Ciee..yang lagi seneng, bagi – bagi dong senengnya !” ucap Alya.

“Iih..ada – ada aja deh kamu ini !” sahutku.

Perbincangan kami pun terhenti saat Indra tiba – tiba datang memanggilku.

“Ada apa In ?” tanyaku.

“Ini nih Din, aku butuh bantuan kamu sekarang untuk memilih calon pengurus OSIS kita yang baru. Pemilihan ini akan dilaksanakan seusai mengaji,  nanti aku akan menjemputmu kemari” jawab Indra.

“Iya, nanti kutunggu ya, aku nggak akan keluar kelas kalau kamu belum menjemputku ! gimana ?” ujarku.

“Siip lah ! tenang aja, neng Dinda, si Indra yang ganteng ini nggak bakalan lupa kok..he he he” jawab Indra.

“Indra..apaan sih, jangan panggil aku neng di depan Alya. Hmm..pasti habis ini Alya menggodaku” ucapku gemas.

“Iya iya ! sorry deh klo gitu, yaudah Din aku ke kelasku dulu ya. Assalamualaikum”

“Iya, waalaikum salam” jawabku.

Alya yang memperhatikan percakapanku dengan Indra dari tadi hanya tersenyum menertawakanku.

“Jangan senyam senyum dong, jadi malu nih aku sama kamu” ucapku.

“Abis..kamu lucu banget waktu ngobrol ma Indra. Aku jadi pengen” jawab Alya.

“Huss..apaan sih ! jangan gitu dong, ntar aku malah salting sendiri kalau ketemu sama Indra gara – gara kamu ejek kayak gini” ujarku.

“Iya sorry sorry” sahut Alya.

Hari – hari berlalu dengan cepat. Kepengurusan OSIS sudah terbentuk dan rapat kerja sudah terlaksana dengan baik. Tak terasa, sudah tiga bulan aku dan Indra menjalankan organisasi nomor satu di sekolah. Banyak sekali rintangan dan halangan yang kulalui bersama Indra. Dan banyak juga kenangan – kenangan indah bersama Indra.

Seperti saat diklat yang kami laksanakan baru – baru ini. Karena terlalu lelah, saat bersantai di kantor OSIS, aku tertidur dan bersandar di pundak Indra. Dengan sabar Indra menungguku hingga aku terjaga. Oh ! sungguh kenangan yang tak terlupakan seumur hidupku. Para sahabatku hanya tersenyum saja saat aku berceloteh menceritakan kejadian itu apalagi Alya dan Rizka, mereka berdua selalu membuatku malu. Seperti saat aku berbicara berdua dengan Indra untuk membahas kegiatan yang akan kami selenggarakan di bulan Oktober ini.

“Ciee..berduaan aja ni..!” ucap mereka bebarengan.

“Ih..apaan sih kalian ini, biasa aja lagi !” sahutku.

“Biasa apa biasa tuh, he he he” ucap mereka.

”Peace Din, Cuma bercanda !” ucap mereka lagi.

“Iya, Dinda tu dah ngerti kebiasaan kalian kayak apa” ujarku.

Keesokan harinya, Indra membuatku bingung dengan tingkah anehnya pagi ini. Bagaimana tidak, biasanya aku membuka sendiri pintu mobilnya. Hari ini Indra membukakannya untukku. Dan di dalam mobil kudapati setangkai mawar merah dengan secarik kerta bertuliskan “untuk DINDA” . memang sih, aku pernah bercerita pada Indra bahwa aku sangat suka sekali dengan bunga mawar merah. Maka dari itu, banyak sekali dijumpai bunga mawar merah di halaman rumahku.

“Gimana dengan bunganya, kamu suka nggak ?” Tanya Indra.

“Em..eh ! aku suka kok, makasih ya !” ucapku sekenanya.

Pertanyaan Indra tadi membuyarkan lamunanku.

Sampai di sekolah aku langsung berlari mencari kelima sahabatku. Nah, itu mereka. Ucapku saat menemukan mereka sedang bersendau gurau. Saat aku datang, mereka mengejekku untuk yang kesekian kalinya.

“Aduh ! kayaknya sobat kita yang lagi kasmaran dateng nih !” ucap Nara.

“Apaan sih sob..” sahutku.

“Sob, aku ada masalah penting yang mau aku certain nih !” ucapku lagi.

“Apa ?” Tanya Rina.

“Ini masalah Indra” jawabku.

“Kamu bertengkar Din sama Indra ?” Tanya Winda

“Enggak sih..Cuma aneh aja gitu” ucapku.

Akupun menceritakan perlakuan Indra pagi ini kepada para sahabatku yang dengan setia mau mendengarkan cerita tentang Indra setiap kali kami bertemu. Mulai dari membukakan pintu sampai memberiku sekuntum mawar merah, tak luput aku ceritakan pada mereka. Usai bercerita, Winda memberikan tanggapannya terhadap ceritaku.

”Kalau menurut aku sih, Indra suka sama kamu Din”

“Ah..! masak sih..” jawabku.

“Apa buktinya ?” tanyaku.

“Sekarang, coba deh kamu pikir, selama ini, kamu kan yang paling sering sama Indra. Apalagi semenjak kamu menjadi wakilnya Indra. Sering banget tuh kamu berdua aja sama Indra. Wajar kan kalau Indra bisa suka sama kamu” sahut Alya.

“Iya juga ya” gumamku.

“ Duh sob, trus aku musti gimana dong sekarang ?” tanyaku.

“Yah kamu hadapi saja Din. Mau gimana lagi. Kami sebagai sobatmu hanya bisa memberikan saran dan masukan. Untuk yang lain, itu tergantung kamu sepenuhnya” Ucap Rizka.

“Semangat Dinda !” imbuh Winda.

“ Ya udah lah, kalau memang begitu. Makasih ya sob, buat masukan dan semangatnya” ucapku.

“Yo’i..!” jawab mereka berlima dengan kompak.

Aku bergumam dalam hati…

“Terima kasih Ya Allah, karena Engkau telah memberiku sahabat yang baik dan berhati mulia”.

Pagi ini kulihat Indra sedang bercanda dengan kedua sahabatnya, Titan dan Aji. Mereka bertiga berjalan menyusuri kelas – kelas dan berhenti tepat di depan kelasku. Lalu, Indra menghampiriku dan berkata..

“Din, ada hal penting yang mau aku bicarakan padamu. Tetapi, aku tak ingin berbicara disini. Nanti sepulang sekolah kau kutunggu di kantor OSIS” bisiknya.

Aku sedikit bertanya – tanya, ada apakah gerangan Indra mengajakku bertemu di kantor OSIS sepulang sekolah. Tidak biasanya dia bersikap begini. Saat jam pelajaran, aku tak bisa berkonsentrasi karena aku terfikirkan oleh kata – kata Indra tadi pagi dan rasa keingintahuanku yang begitu besar.

Tiba saatnya aku harus berhadapan dengan Indra. Aku duduk berhadapan dengan Indra. Kubuka pembicaraan.

“Ada apa In, kok kayaknya ada hal yang serius banget. Sampai – kamu mengajakku untuk berbicara berdua denganku disini” ujarku.

“Dinda.. sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan padamu. Tetapi karena sesuatu hal aku mengurungkan niat itu. Dan, kurasa hari ini adalah hari yang tepat untukku berbicara tentang ini padamu.” Ucapan Indra sedikit mengagetkanku.

“Ada apa sih In, kok kamu berhenti bicaranya, lanjutin dong. Kamu udah bikin aku penasaran dari tadi” ucapku seraya menaruh tas di bangku yang terletak persis di sebelahku.

“Dinda.., aku suka sama kamu. Aku nggak tahu mulai kapan aku suka sama kamu. Tapi hati aku merasa sangat cocok denganmu. Karena kamu adalah orang yang sangat baik dan lembut tutur kata serta perilakunya. Aku tidak memaksa kamu untuk menjawab sekarang. Tapi aku mohon sama kamu, agar kamu mau membalas perasaanku ini” ucap Indra.

“Tapi In..”

“Udah sekarang ayo pulang !” potong Indra sembari menggandeng tanganku.

Esoknya..kuceritakan kejadian ini pada kelima sahabatku…

“Oh my God ! so sweat banget” ucap mereka bebarengan.

Aku hanya tersipu malu mendegar tanggapan mereka.

“Gimana nih sob, aku bingung mau ngejawab apa” curhatku.

“Udah terima aja. Lagian menurut kami, kamu memang cocok kalau bersanding dengan Indra. Karena kalian sama – sama aktifis di sekolah ini. Hanya saja, kalau memang kamu jadi pacaran sama Indra. Kamu harus ekstra hati – hati karena tidak sedikit yang mengenalmu di sekolah ini. Kalau untuk masalah ketemuan dan lain sebagainya. Itu bukan suatu hal yang sulit. Toh kamu pulang dan berangkat sekolah kan satu mobil sama dia” saran Winda dan Rizka.

“Gimana sob, kalian setuju nggak sama usulanku ini ?” Tanya Winda pada semua sahabatku.

“Setujuuu…!” jawab mereka serempak.

Aku hanya terdiam saat sahabatku menyatakan kesetujuannya. Dan mungkin aku akan mengikuti saran dari sahabatku.

Sepulang sekolah, mama memberiku sepucuk surat…

“Dinda ini ada surat dari teman kamu. Tapi, mama tidak tahu siapa pengirimnya. Tadi pak pos yang mengantarkan ke rumah. Coba kamu baca ini !” ucap mama sambil menyodorkan satu amplop berwarna merah jambu dengan aroma bunga mawar kesukaanku.

Kubawalah surat itu ke kamar. Sambil menerka – nerka siapa pengirim surat itu.”Apa Indra ?” gumamku. Aku membukanya perlahan.

Surat itu berbunyi…

Assalamualaikum…

Dinda, mungkin kamu bertanya – Tanya siapa gerangan pengirim surat ini.

Melalui surat ini, aku hanya ingin bertanya “apakah kamu sudah menemukan jawaban atas pertanyaanku beberapa hari yang lalu ?” kumohon agar kamu sesegera mungkin membalas perasaanku.

Kutunggu besok sepulang sekolah di kantor OSIS saja agar tidak ada yang curiga terhadap kita berdua.

Wassalam…

I.N.D.R.A

Ternyata benar dugaanku. Indra yang mengirim surat itu untukku. Aku bingung karena aku belum bisa memberikan jawaban kepada Indra. Malam ini kubolak balik surat itu dan kupikirkan baik – baik jawaban apa yang akan kuberikan pada Indra besok. Setelah cukup lama berfikir. Akhirnya aku tertidur lelap.

Aku berdebar – debar. Karena ini adalah saat dimana aku harus menjawab perasaan Indra. Aku sudah terduduk di posisi seperti beberapa hari yang lalu. Kemudian Indra membuka pembicaraan,

“Bagaimana Din, apa jawaban kamu ?” Tanya Indra dengan lembut.

“A..a..aku.., nerima kamu jadi kekasih hati aku !” jawabku lirih.

“Beneran Din ?” Tanya Indra dengan wajah berbinar – binar.

“Iya Indra, aku serius” jawabku.

“Makasih Din, mulai saat ini, boleh nggak aku pangil kamu dengan panggilan ‘cinta’ ?” Tanya Indra.

“Nggak boleh ! kamu jelek. He he he” candaku.

“Yes ! berarti boleh dong” ucap Indra gembira.

Kujawab dengan angggukan kepala. Dan Indra tersenyum manis untukku.

“ Oh iya cinta, beberapa waktu yang lalu aku mengirim pesan padamu. Tetapi saat kamu membalas pesanku, aku kehabisan pulsa. Jadi tidak dapat kubalas.” Ujar Indra.

“Oh..! jadi itu nomor kamu tho cin. Ya udah nggak papa” jawabku menggoda.

Saat aku keluar berdua dengan Indra. Ternyata sahabat setiaku dan sahabat Indra sudah menunggu di depan kantor OSIS. Spontan saja aku dan Indra terkejut.

“ Ciee.. yang baru jadian” ucap mereka kompak sambil menertawakan aku dan Indra.

“Waduh kayaknya ada yang mau nraktir kita – kita nih !” tambah Titan.

Langsung saja dengan sendirinya wajahku memerah seperti buah tomat.

“Ah kalian ini. Ngagetin aja deh” ujar Indra.

“Biar aja, yang penting happy..!” sahut Rizka.

“Ya udah deh, ayo kita pulang. Udah sore nih !” ajakku.

Akhirnya kami pulang ke rumah masing – masing. Sungguh, hari ini tidak akan terlupakan dalam hidupku.

Malam ini, aku tak bisa belajar dengan tenang. Karena aku masih tidak percaya aku jadian sama Indra. Handphone yang sedari tadi bersanding denganku berbunyi. Ada pesan masuk dari Indra. ‘Mlem cintaku’. Tulis Indra di pesan singkat itu. Dengan senyum tersungging dibibir aku membalas pesan dari Indra, ‘mlem juga cinta..’ . ‘lagi apa nih ? pasti cinta-Q lgi belajar.’ Balas Indra lagi. ‘bisa dibilang gitu, Cinta ndiri agi apa ?’ balasku kemudian.’sama, ya udah deh cin. Cinta belajar dlu aja. Ntar klo udah selesai belajar. Kita sms an lgi !’ . perbincangan singkat di sms terhenti disini. Aku melanjutkan belajarku dan Indra pun juga melakukan hal yang sama denganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 tengah malam. Aku sudah tak bisa menahan kantukku. Aku pun tertidur.

Waktu menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Handphone ku tiba – tiba berbunyi. Suara handphone yang nyaring membangunkanku dari mimpi indahku.

“Siapa sih pagi – pagi gini sms, nggak tau orang masih tidur apa” gerutuku.

Ternyata itu pesan dari Indra. Kubaca pesan itu dengan mata masih sedikit tertutup. ‘cinta…bangun ! dah pagi nih.. dah waktunya sholat subuh’. Ketik Indra dalam surat itu.  ‘ iya Indraku tercinta.. nie Dinda dah bangun kok !’ balasku kemudian. Aku pun menuruti kata – kata Indra. Kemudian, kulakukan aktifitas seperti biasanya.

Hari – hari ku semakin terasa indah ketika Indra bersanding denganku. Selain sahabatku, Dia juga selalu menyupport aku saat aku ada masalah. Dia juga menghiburku saaat aku sedih. Pokoknya indaaah banget. Dan udah banyak banget kenangan – kenangan indah yang kulalui bersamanya.

Saat aku bertemu sahabatku, mereka selalu menggodaku. Maklum, semua sahabatku adalah orang yang suka hal – hal menyenangkan juga menghibur. Dan acap kali aku yang menjadi bahan godaan mereka.

TIMBUL MASALAH DI ORGANISASI

Siang ini, aku dan Indra sepakat akan mengadakan rapat OSIS untuk membahas acara dalam agenda OSIS, yaitu pekan pengembangan potensi dan kreatifitas MASANEGA juga pameran hasil kerajinan siswa / siswi MASANEGA. acara yang kami adakan ini membutuhkan banyak pengurus OSIS dan tentunya banyak juga dana yang dibutuhkan. Oleh karena itu aku meminta Winda, yang menjadi bendahara OSIS untuk membuatkan perincian dana yang kami butuhkan. Bukan suatu hal yang sulit bagi Winda untuk membuat sebuah perincian dana suatu kegiatan.

Rapat OSIS telah usai. Semua pengurus OSIS berhamburan untuk segera pulang. Yang tersisa hanya aku, Indra, Winda, Rizka,Rina, Titan, Nara dan Alya. Kami memang sepakat untuk membahas lagi masalah kegiatan ini, pembahasan ini berguna sebagai pemantapan kami saja. Selesai membahas kegiatan ini, Titan mengajak kami sholat Dhuhur berjamaah dan Titan meminta Indra untuk menjadi imam sholat kami.

Alya kemudian berceloteh,

“Duh, kayaknya ada yang seneng nih kalau Indra yang menjadi imam sholat kita ?”

“Alya, apaan sih ! jangan malu – maluin aku dong..” ucapku.

“Tapi emang bener kan nyonya Dinda tersayang ?”

“Iya..iya, tapi jangan panggil aku nyonya dong. Aku kan nggak mau tua dulu..” dengusku

“Trus kalau gitu, kamu mau aku panggil apa dong ? oh iya, aku panggil aja kamu Dinda, tapi Dinda ini ada artinya lho !” goda Alya

“ Apa artinya ?” tanyaku.

“ Adinda dan Indra” balas Alya dengan suara lantang.

Sponta aja sahabatku yang lain bilang,,

“Cocok tuh…! he he he. Peace Dinda..” sahut semua sahabatku dengan kompak.

Indra dan Titan yang melihat aku dan para sahabatku hanya tersenyum saja. Mungkin mereka berfikir bahwa aku dan sahabat – sahabatku sangat kompak, akrab dan juga lucu.

Setelah bergurau, kami pun melaksanakan sholat. Seusai sholat sahabat – sahabatku berkomentar tentang suara Indra.

“Merdu banget ya suaranya” kata mereka sambil berbisik…

Agaknya mereka takut terdengar oleh Indra. Aku hanya tersenyum membalas komentar mereka.

Saat aku berada di mobil Indra. Aku tertidur karena aku terlalu capek hari ini. Indra yang melihatku seperti ini, hanya tersenyum sambil memeperhatikanku.

“Sungguh gadis yang lucu, tak salah aku memilih Dinda untuk kujadikan pacarku” gumam Indra.

“Dinda sayang, ayo bangun. Ini udah ada di depan rumah kamu” kata Indra lembut.

“Oh udah sampai ya !” ucapku lirih.

Kemudian Indra menjawab “Iya cinta”.

“Makasih ya In, kamu udah mau perhatian dan ngertiin aku” ucapku sembari tersenyum.

Indra membalasnya dengan anggukan kepala.

Hari ini, aku bertengkar dengan Indra karena masalah kegiatan yang akan kami adakan sebentar lagi. Aku berpendapat bahwa kita harus berlatih dahulu seminggu sebelum kegiatan dan Indra berpendapat bahwa kita harus berlatih dua hari sebelum kegiatan saja. Pertengkaran yang heboh ini terjadi di depan sahabatku dan sahabat Indra. Mereka heran melihatku bertengkar dengan Indra. Padahal sehari – hari kami selalu kompak dan hampir tidak pernah bertengkar untuk masalah sekecil apapun.

Semenjak kami bertengkar, aku jarang sekali ke kantor OSIS juga aku tidak mau berangkat dan pulang bersama dengan Indra. Cukup lama kami bertengkar. Para sahabatku hanya bisa diam saja. Karena mereka mengerti kalau aku dan Indra sama – sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah di saat seperti ini.

Kegiatan yang kami selenggarakan pun tiba. Indra memutuskan, kami berlatih seminggu sebelum kegiatan. Tetapi Indra membuat keputusan ini saat aku sudah marah padanya. Jadi, kalau Indra memakai hal itu untuk membuat aku berbaikan dengannya, nggak banget deh !.

Setelah berlatih selama tiga hari, Indra mengajakku berbicara. Tapi, kali ini hanya berdua. Tidak ada seorang pun yang tau. Dengan acuh kuikuti kemana Indra pergi. Ternyata dia mengajakku ke kantor OSIS, tempat dimana aku mulai bertengkar dengannya. Kantor OSIS yang kulihat kali ini tampak berbeda dengan sebelumnya. Terlihat lebih rapi dan gambar presiden serta wakil dan juga pancasila sudah terpasang di dinding. Jam dinding, white board kecil dan kalender sudah terpasang rapi di tempatnya. Setelah memperhatikan sekeliling. Akupun duduk berhadapan dengan Indra persis seperti waktu dulu aku menerima cintanya. Indra membuka pembicaraan,

“Dinda, maafin aku atas kejadian kemarin. Setelah ku pikir – pikir, pendapat kamu lebih baik dibanding pendapatku. Dan sekarang sudah kulalukan pendapatmu itu” ucap Indra.

“Tapi, waktu itu kamu bentak – bentak aku. Dan kamu melakukan itu di depan sahabat – sahabat aku. Asal kamu tau In, papa dan mama aku nggak pernah bentak aku, karena mereka tahu aku itu anak yang perasa, dan juga mereka tahu kalau aku anak yang baik dan penurut” jawabku sambil menangis.

“Maafkan aku Dinda, maafkan aku ! aku tidak tahu kalau waktu itu sangat menyakitkanmu, maafkan aku..!” ucap Indra lagi.

“Percuma In kalau sekarang kamu minta maaf padaku” ucapku.

“Tapi Din…?” ucap Indra lagi.

“Terlambat In, butuh waktu lama untuk mengobati perasaanku” ucapku lirih.

Seusai menjawab pertanyaan Indra, aku berlari keluar dari kantor OSIS dan segera mencari sahabatku. Saat aku berlari aku bertemu Rizka, Rizka yang melihatku menangis bertanya padaku.

“Dinda, kenapa kamu ?” Tanya Rizka.

“Aku nggak papa kok..!” jawabku lirih.

Setelah berkata demikian, akupun langsung menghambur, memeluk Rizka. Rizka yang tahu keadaanku membiarkanku menangis dan bersandar di pundaknya. Setetah tangisku reda aku menceritakan semuanya pada Rizka. Dan aku juga bilang ke Rizka kalau aku nggak sanggup untuk terlalu lama jauh dengan Indra. Tetapi apa boleh buat. Semuanya sudah terjadi. Rizka menenangkanku dan berjanji akan membantu menyelesaikan masalahku. Malamnya Indra mengirm pesan padaku. Isinya..

‘Dinda aku minta maaf padamu, karena aku telah melukai perasaanmu. Demi Allah, waktu itu aku tidak sengaja dan aku khilaf Dinda. Aku mohon, maafkan aku. Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu, aku nggak pengen kehilangan kamu. Karena aku sangat sayang padamu.’

Setelah itu, aku menangis sejadi – jadinya. Hingga akhirnya aku tertidur.

Setelah perjumpaanku dengan Indra saat itu. Aku jadi sangat pendiam ketika ada rapat. Tak keluar satupun pendapat dari mulutku. Padahal biasanya, selalu ada pendapat yang kusumbangkan untuk organisasi kesayanganku ini.  Saat Indra mendekatiku, aku menjauh. Saat Indra bertanya padaku, aku diam. Begitu seterusnya.

Melihat keadaanku yang seperti itu sahabatku merasa iba. Mereka terus mendesak Indra agar meminta maaf padaku. Berkali – kali mereka mendesak Indra dan berkali – kali pula Indra meminta maaf padaku tetapi tak kuhiraukan. Hingga akhirnya Indra berubah. Semakin hari, dia semakin tidak karuan. Tidak mau beribadah, tidak mau mengaji, tidak pernah belajar, organisasi jadi berantakan.

Mengetahui hal itu, kutanya Indra..

“Kenapa kamu jadi seperti ini ?”

“Udah, kamu nggak usah ikut campur urusan aku. Toh kamu sekarang juga nggak mau kan ketemu aku.. hanya dengan aku berubah kayak gini. Kamu mau mendekatiku” ucap Indra.

“Kamu keterlaluan In…bener – bener keterlaluan” ucapku sembari menangis.

“Kamu dah bikin aku terluka karena perbuatan kamu” ucapku kemudian.

Setelah itu kutinggalkan Indra sendiri. Aku berlari sekencang – kencangnya. Kuraih tasku dan kemudian aku langsung pulang ke rumah karena perlakuan Indra hari ini membuatku tak bersemangat untuk melakukan apapun.

Aku khawatir keadaan akan semakin memburuk. Tetapi jika aku ingat perlakuan Indra padaku. Rasanya aku tak mau memaafkannya. Seharusnya dengan aku marah sama dia, dia bisa membuktikan bahwa dia mampu menjadi seorang ketua yang baik meskipun aku tak membantunya.

Apa yang kukhawatirkan selama ini terjadi. Indra sudah berubah. Bahkan sekarang Indra suka melamun dan menyakiti dirinya sendiri. Aku tak kuasa melihat itu. Aku benar – benar tidak tega melihatnya.

“Ya Allah, kenapa Indra jadi seperti ini, apa hanya karena dia bertengkar denganku lalu dia bertindak seperti itu ?” batinku.

Aku menangis sambil berdo’a, memohon kepada Allah agar aku kuat menghadapi semua masalah ini dan agar aku diberi petunjuk oleh Allah apa yang akan aku perbuat untuk Indra. Lalu kuceritakan lagi masalah ini kepada Rizka. Ternyata Rizka juga prihatin melihat keadaan Indra, demikian pula dengan semua sahabatku. Aku meminta agar Rizka mau membantuku untuk mengatakan ini kepada semua sahabatku.

Kemudian sahabat – sahabatku semakin mempersulit keadaan. Karena mereka terus mendesakku untuk memaafkan Indra. Hanya Rizka yang mengerti keadaanku. Karena, memang hanya Rizka yang kuberitahu masalah yang sebenarnya. Lama – kelamaan aku menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada mereka. Aku tak sanggup untuk menceritakannya. Tetapi karena bantuan Rizka aku sanggup menceritakan kejadian ini semua. Sahabat – sahabatku pun meminta maaf dan tak lama kemudian mereka menghiburku. Dan juga mereka berjanji akan membantu menyelesaikan masalahku dengan Indra.

TERIMA KASIH SOBAT

Keesokan harinya, Alya memberitahuku bahwa dia dan Nara, Winda, Rizka dan Rina akan berbicara dengan Indra. Alya bertanya padaku,,

“Kamu setuju nggak Din..?”

Akupun mengangguk tanda setuju.

Alya tersenyum lalu berlari untuk memberitahukan jawaban ini pada sahabatku yang lainnya. Aku menyusul ketempat biasanyanya kami berkumpul tetapi, tidak kudapati mereka. Akupun mencari mereka ke kelas tetapi tidak ada juga.

“Jangan – jangan , sekarang mereka sedang di kantor OSIS untuk berbicara dengan Indra” batinku.

Akupun bergegas ke kantor OSIS dan ternyata memang benar dugaanku. Saat aku sudah sampai di depan pintu, sayup – sayup kudengar suara mereka berbicara. Setelah itu hening. Dan tak lama kemudian, ake mendengar Indra berbicara.

“Demi Allah aku nggak bermaksud melukai perasaan Dinda. Dan itu nggak mungkin aku lakukan, karena aku sangat sayang sama dia dan aku nggak pengen kehilangan dia. Aku mohon sama kalian, kalian bujuk Dinda agar mau memaafkanku. Aku mohon. Aku udah nggak sanggup ngejalani semua ini. Ini sangat membuatku tersiksa dan akhirnya aku jadi seperti saat ini” ucap Indra pada para sahabatku.

Setelah mendengar suara Indra, aku tak kuasa membendung air mataku. Akupun menangis dan berlari ke kelas. Titan melihatku, dia heran melihatku menangis dan dia pun menuju ke arah dimana awalnya aku menangis. Kemudian, Titan memberitahu kepada mereka semua kalau aku sedang menangis dan berlari menuju kelas. Saat berlari aku berkata dalam hati..

“ Ya Allah, aku ingin sekali memaafkan Indra dan aku ingin sekali mengembalikan Indra seperti dulu lagi dan menghambur di pelukannya. Tetapi itu tak mungkin kulakukan. Bantu aku Ya Allah”.

Sampai di kelas, Alya dengan nafas tersenggal menghampiriku. Kemudian datang juga Winda, Nara, Rizka dan Rina. Mereka khawatir akan keadaanku.

“Dinda, kamu kenapa ?” Tanya Rizka.

“Aku…aku tak kuasa menahan tangisku saat aku menyusul kalian ke kator OSIS dan aku mendengar suara Indra yang memelas dan memohon pada kalian. Aku nggak sanggup mendengar semua itu. Karena aku..” aku pun terdiam.

“Kenapa Din ?” Tanya Rina.

“Aku nggak tega sob, ngelihat Indra kayak gitu. Dan juga, karena aku sayang banget sama Indra meskipun sekarang Indra tak seperti dulu lagi” ucapku lirih.

“Semangat Dinda..! kami yakin kamu bisa melewati masa ini” imbuh Nara dan Winda hampir bersamaan.

Tangisku pun mereda, kemudian Nara berbicara..

“Tenang Din, misi kami udah hampir selesai kok”.

“Misi apaan ?” tanyaku.

“Rahasia..!’ jawab sahabatku serempak.

“Ada – ada aja deh kalian ini !” sahutku.

Keesokan harinya, kutemukan setangkai bunga mawar merah dan sepucuk surat yang bertuliskan ‘untuk DINDA’.

“Dari siapa ini ?” gumamku.

Aku termenung sebentar. Kucoba menerka – nerka. Dan…, aku ingat. Ini pasti dari Indra, karena Indra pernah memberiku setangkai bunga mawar merah dan sepucuk surat yang bertuliskan sama persis dengan yang kupegang saat ini.

Setiba di sekolah, tiba – tiba saja ada rasa yang mendorongku agar aku bergegas menuju ke markas tempatku biasa berkumpul bersama sahabatku. Aku terhera – heran. Karena tidak biasanya aku seperti ini.

Sampai di depan markas, rasa heranku semakin bertambah, banyak sekali bunga mawar merah berjajar. Kupungut bunga – bunga itu hingga tak terasa aku berada di dalam markasku.

“Kenapa gelap ?” pikirku.

Tiba – tiba lampu hidup dan sahabatku berteriak ‘Kejutaaan…!’.

Aku terkejut kemudian berkata “Ih ! kalian ini apa – apaan sih. Emang ada acara apa hari ini ?”

“Ini kan hari ulang tahun kamu Din, masak kamu lupa ?” Tanya Alya.

“Astaugfirullah ! iya ya, ini kan hari ulang tahun aku. Swear deh sob, aku bener – bener lupa . udah gitu tadi aku berangkat sekolah pagiii banget. Semua orang di rumah belum bangun. Makanya, aku lupa, karena tidak ada yang mengingatkanku. Makasih ya sob kejutannya” ucapku dengan mata berbinar.

Yah memang, hari ini, tepatnya tanggal 10 November adalah hari yang bersejarah dalam hidupku.

” Eh Din, sebenernya kita juga lupa sama hari ulang tahun kamu, karena kami terlalu sibuk memikirkan masalah pertengkaran antara kamu dan Indra. Tapi, untungnya, Indra ngingetin kita – kita ! he he he, peace Dinda..!” ujar mereka kemudian.

“Beneran, Indra yang ngingetin kalian ?” tanyaku tidak percaya.

“Iya Dinda, bahkan yang mengajak  kami untuk membuat kejutan ini juga Indra !” terang Winda.

Kemudian Indra muncul bersama Titan dan Aji. Dia membawa kue tart dan bernyanyi lagu selamat ulang tahun untukku. Saat melihat Indra, air mataku pun kembali menetes. Tetapi kali ini tidak karena aku marah sama dia, tetapi karena Indra ternyata masih perhatian sama aku, dan dia juga ingat akan hari ulang tahunku.

“ Happy birthday Dinda!” ucap Indra.

“Makasih In, aku ngak nyangka kamu bakalan ngelakuin semua ini buat aku” jawabku.

Setelah itu, kue tart yang dibawa oleh Indra, diserahkan pada Alya. Lalu, Indra bersimpuh dihadapanku untuk pertama kalinya dan berkata..

“ Dinda, kamu masih mau kan maafin aku ? Boleh kan mulai sekarang aku mangggil kamu dengan panggilan ‘cinta’ lagi? Aku janji sama kamu kalau kamu mau maafin aku. Aku akan mengubah perilaku burukku. Aku menjadi seperti ini karena kamu Dinda” ucap Indra.

“  Indra…k..kamu ?” aku terkejut melihat Indra sampai seperti itu padaku,

“ Bangun Indra..! aku nggak kamu kamu seperti ini… ini membuat aku semakin ingin menangis” ucapku kemudian,

Lalu aku membantu Indra untuk berdiri dan berkata..

“ Iya In, aku udah maafin kamu, kamu juga maafin aku ya In. Boleh Indra,kamu boleh manggil aku dengan sebutan itu lagi..tetapi kamu harus janji bener – bener janji buat ngerubah perilaku buruk kamu”

“Iya, aku janji aku nggak bakalan mengulangi itu lagi, makasih cinta..” ucap Indra lagi.

“Indra, sebenarnya aku nggak sanggup untuk memusuhi kamu, melihat kamu berubah seperti itu rasanya pengen banget buat baikan lagi sama kamu biar aku bisa ngembaliin kamu seperti dulu lagi dan aku juga nggak sanggup untuk berpisah dan jauh sama kamu” ucapku.

“Aku juga merasakan hal yang sama Din, aku nggak bisa jauh dan kehilangan kamu. Aku berbuat hal seperti itu karena aku takut kehilangan kamu.” ucap Indra.

“Wah In kamu mustinya bersyukur punya cewek sebaik dan sesabar Dinda” celoteh Winda.

“Dan juga kamu harus memohon ampun kepada Allah, karena kamu telah melupakan perintah – Nya” imbuh Rina.

“Betul..betul…betul..” ucapku kemudian.

Mendengar ucapanku yang lucu semua orang yang berda di ruangan itu tertawa dengan gembira. Termasuk aku.

Seusai tertawa, aku, Indra dan juga sahabatku meniup lilin bersama. Daaan…. Sekarang saatnya aku memberikan potongan kue pertamaku. Saat aku akan memotong kue, Rina sudah berceloteh…

“Hayoo..! kuenya mau dikasih ke siapa tuh ?”

“Masak sih kamu nggak tahu Rin, So pasti Indra lah” ucap Winda.

“Yup..! Tul banget tuh..” imbuh semua sahabatku.

“Tuh kan, mulai deh bikin malu aku..” ucapku kemudian.

Tapi memang benar apa yang mereka bilang. Aku memberikan potongan kue pertamu untuk Indra. Kemudian disusul dengan Nara, Winda, Rizka, Alya dan Rina juga Titan dan Aji. Kami semua sangat gembira pagi ini. Meskipun pesta itu hanya sebentar dan sangat sederhana. Tetapi ini adalah moment yang tak bisa kulupakan.

Hari ini, aku menyadari bahwa banyak sekali orang yang sayang, perhatian dan tak mau kehilangan aku, selain keluargaku. Hatikupun juga sangaat lega karena aku telah berbaikan dengan Indra. Semakin lama aku bersama Indra dan sahabat – sahabatku, semakin lama pula aku tak ingin jauh dari mereka dan tak ingin meninggalkan mereka.

Sesampai di rumah, mama dan papa juga Dika memberi kejutan padaku. Mereka mengucapkan ulang tahun padaku, memberiku kue tart dan mereka memberiku hadiah yang tak kusangka – sangka. Yaitu laptop idamanku dan paket berlibur selama dua minggu di Bali bersama dengan keluargaku. Dan mama juga bilang kalau kami akan mengajak semua sahabatku untuk berlibur bersama. Bukan main gembiranya diriku. Trip ini akan kami laksanakan saat liburan kenaikan kelas yang tinggal beberapa minggu lagi. Esoknya, kuceritakan hal ini kepada semua sahabatku dan juga Indra. Mereka pun bersorak gembira mendengar berita itu.

PUPUS SUDAH HARAPANKU

Saat yang kami tunggu – tunggu akhirnya tiba. Setelah menerima rapor semester, kami mendapat libur selama dua minggu. Liburan kali ini akan sangat berbeda dengan biasanya. Karena, liburan kali ini, aku akan berlibur bersama orang – orang yang sangat kusayang. Terutama  Indra.

Pagi – pagi sekali kami berangkat. Kami berangkat menggunakan mobil pribadiku dan mobil pribadi Indra. Saat berada di perjalanan aku sangat gembira karena sahabat – sahabatku selalu membuat lelucon agar kami semua tertawa. Kali ini aku tidak satu mobil dengan Indra. Di mobil Indra hanya ada Titan dan Aji. Aku sengaja meminta Titan dan Aji untuk menemani Indra dan agar mereka juga dapat menggantikan Indra untuk mengemudikan mobilnya.

Mobilku berada di belakang mobil Indra. Karena aku meminta papa untuk mengawasi cara Indra mengendarai mobil. Karena aku tahu, sebagai seorang siswa yang masih duduk di bangku MTs, Indra tentunya mempunyai rasa mudah lelah dan mungkin tidak berhati – hati.

Tak terasa kami sudah sampai di Surabaya. Saat di Surabaya, jalan raya sangat ramai dengan kendaraan roda dua. Untuk itu para pengendara mobil harus ekstra hati – hati. Akupun bertanya pada papa,

“Pa, kalau jalanan ramai sama kendaraan roda dua gini, gimana ya cara pengendara mobil untuk berhati – hati ?”

Saat papa akan menjawab pertanyaanku terdengar suara benturan yang lumayan keras. Saat itu aku duduk di belakang dan aku tak tahu dari mana sumber suara itu berasal.

Papa yang baru saja menoleh kebelakang berseru “Astaugfirullah hal adzim…Indra”

“Ya Allah Indra..” pekik mama tak kalah keras.

“Ada apa ma ? ada apa dengan Indra ?” aku yang memang memilih untuk duduk sendiri di belakang bertanya pada mama.

Tetapi mama tak kunjung menjawab pertanyaanku. Sahabat – sahabatku yang semobil juga tidak ada yang membuka suara.

Papa dengan tiba – tiba memarkir mobilnya di pinggir jalan, membuka pintu dan langsung berlari ke arah sumber suara benturan tersebut. Aku juga mengikuti papa meskipun sahabat – sahabat dan juga mama melarangku untuk keluar dari mobil. Tetapi aku tetap bersikeras untuk keluar.

Ternyata, suara benturan tadi berasal dari suara mobil yang bertabrakan dengan sesama mobil. Dan ketika aku tiba di tempat kejadian, aku langsung terduduk lemas. Karena aku sangat kenal dengan salah satu mobil yang bertabrakan tadi. Yah, itu mobil Indra. Mobil orang yang sangat aku sayang.

“Ya Allah Indra..!” jeritku.

Tangiskupun tak dapat ku bendung.  Aku menangis sejadi – jadinya. Perasaan gembira yang kubawa tadi pagi. Kini berubah menjadi rasa pilu… pilu yang amat sangat.

“ Ya Allah, kenapa ini terjadi padaku. Kenapa ini terjadi saat aku baru berbaikan dengan Indra ? Mungkinkah ini peringatan – Mu untukku ? Mungkinkah ini cobaan dari – Mu ?” gumamku lirih.

Sahabatku berusaha menenangkanku. Tapi, tak bisa.

Tangisku mulai reda. Kulihat orang – orang berkerumun di mobil Indra. Tetapi.., agaknya mereka tidak berani untuk membuka pintu mobil Indra karena keterbatasan alat yang digunakan untuk mengevakuasi. Saat melihat hal itu, aku berlari mendekati mobil Indra. Kucoba sekuat tenaga untuk membuka pintu di sebelah pengemudi. Lagaknya, usahaku membuahkan hasil. Pintu perlahan – lahan dapat di buka meskipun harus mengangkatnya terlebih dahulu.

Pintu sudah terbuka, kulihat Indra yang terkulai tak berdaya di atas kemudi.  Agaknya, kepala Indra telah membentur keras kemudi dan pecahan kaca mobil Indra mengenai kedua tangan Indra. Kemudian kuminta penduduk sekitar untuk mengangkat Indra ke mobilku. Lalu, kudapati Aji dan Titan yang lemas. Mereka berdua selamat karena duduk di bangku belakang kemudi.

Setelah itu, kuhampiri  mobil yang menabrak mobil kekasih hatiku.  Pengemudi mobil tersebut tewas seketika. Papa yang mengevakuasi korban di mobil itu saat aku berusaha monolong Indra. Sedangkan mama, sudah siap di belakang kemudi untuk mengantarkanku dan juga sahabat – sahabatku ke rumah sakit.

Di dalam mobil, aku menangis. Aku masih tak dapat menerima kenyataan ini. Kulihat Indra yang tergolek lemas di pangkuanku.

“Kenapa musti kamu In, kenapa nggak aku aja. Aku pengen ngegantiin posisi kamu saat ini, karena aku nggak mau kehilangan kamu” gumamku lirih.

“Yang sabar ya Din, kamu nggak boleh berkata seperti itu. Ini cobaan buat kamu. Dan kamu harus sabar dan tabah menghadapi semuanya. Dan juga kamu banyak – banyak berdo’a, mendekatkan diri pada Allah untuk kesembuhan Indra” ujar Alya lembut.

“Iya Al…! makasih..” jawabku.

Sampai di rumah sakit, Indra langsung dilarikan ke ruang UGD. Mama kembali ke lokasi kejadian untuk menjemput papa. Aku mondar – mandir menunggu hasil pemeriksaan dokter. Dokter telah usai mengobati luka Indra dan dokter bilang padaku kalau Indra mengalami gegar otak ringan dan pecahan kaca yang mengenai kedua tangannya hanya menimbulkan luka kecil saja. “Syukurlah..! tidak terjadi apa – apa sama Indra” batinku. Dokter menyarankan agar Indra dirawat di rumah sakit selama satu minggu untuk fase penyembuhan. Kuikuti saran dokter. Setelah itu Indra dipindahkan ke ruang VIP di rumah sakit tersebut.

Saat menunggu Indra dipindahkan. Aku teringat pada orang tua Indra. Lalu, aku pun menelepon mama Indra yang sedang berada di luar kota dan memberitahukan kalau Indra mengalami kecelakaan. Mama Indra terkejut mendengar berita itu. Tetapi, malang… beliau tidak dapat menunggui Indra karena pekerjaan beliau tidak dapat ditinggalkan begitu juga dengan papa Indra. Dan akhirnya mereka menitipkan Indra padaku.

Setelah menelepon aku bergegas menyelesaikan masalah administrasi. Papa dan mama datang menghampiriku. Papa kemudian menanyakan tentang keadaan Indra. Beliau terlihat sangat khawatir begitu juga dengan mama. Lalu aku bilang pada papa dan mama kalau Indra hanya mengalami gegar otak ringan saja.

“Alhamdulillah..!” ujar papa dan mama bebarengan.

Perbincangan kami berhenti sampai disini kemudian aku mengajak papa dan mama untuk segera ke ruangan Indra karena urusan administrasi sudah selesai.

Sampai di ruangan ku lihat Indra sudah sadar. Dan dia terlihat sedang berbicara sesuatu dengan Nara. Nara yang melihatku mendekat segera menyuruhku untuk duduk di samping ranjang Indra. Setelah aku duduk, Indra meminta semua sahabatku, mama dan juga papa agar membiarkan kami berdua berbicara.

Hening.., aku pun membuka pembicaraan…

“Cinta, cepet sembuh ya ! aku nggak tega kalau melihat kondisi kamu seperti ini”

“Aku nggak papa kok ! paling – paling dua hari udah sembuh.., Dinda nggak usah khawatir lihat kondisi aku, selama ada kamu disini buat nemenin aku, aku bakalan sanggup menghadapi semua ini..” ucap Indra lirih.

“Aku pasti disini In..aku nggak bakalan ninggalin kamu..!” ucapku lagi.

“Makasih cinta” ucap Indra kali ini dengan tersenyum.

Usai berbincang – bincang. Aku menyuruh Indra untuk beristirahat. Indra pun menuruti kata – kataku. Beberapa saat kemudian ku lihat Indra sudah tertidur pulas. Dan lama kelamaan aku juga ikut tertidur. Tentunya di samping Indra..!. sahabatku yang kebetulan menengok tersenyum melihatku tertidur di samping Indra. Duuh.. keterlaluan deh ! sahabat – sahabatku emang jahil abizzz..!.

Hari demi hari, keadaan Indra semakin membaik. Tak lupa kuperbanyak do’a dan dzikir kepada Yang Maha Kuasa agar Indra diberi kesembuhan. Do’a ku dikabulkan oleh Allah. Setelah satu minggu di rumah sakit, Indra diperbolehkan untuk pulang. Karena kondisinya sudah membaik.

Saat pulang, aku satu mobil dengan Indra dan yang menggantikan Indra untuk menyetir mobil adalah mama dengan ditemani oleh Nara, Rina dan Aji.  Liburan ke Bali sudah kami batalkan. Sekarang berganti dengan merawat dan menemani Indra sampai dia sembuh total.

Kami sudah tiba di rumah Indra. Keadan rumah terlihat sepi tanpa penghuni. Langsung saja kami masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam tak kudapati orang tua Indra. Yang ada hanyalah Bi Inah dan Mang Kosim. Lalu kutanyai Bi Inah.

“Bi, kemana semua orang di rumah ini. Kok sepi banget ?’ tanyaku

“Iya nih bi, masak saat kami akan masuk ke dalam rumah harus membuka pintu sendiri” ucap Nara menambahi.

“Begini non, orang tua den Indra masih belum pulang. Beliau masih sibuk dengan pekerjaannya. Maklum non, tuan dan nyonya kan orangnya pekerja keras.” Jawab bibi.

“Apa ini sering terjadi bi ?” tanyaku lagi.

“Sering sekali non. Saya sampai merasa kasihan pada den Indra karena sering kali den Indra sendiri si rumah dan den Indra juga pernah bilang sama saya kalau dia sangat kesepian” jawab bibi lagi.

“ Hh..jadi begitu.. ya udah deh bi, kami mau masuk dulu” ucapku dan Winda bebarengan.

Ternyata kedua orang tua Indra belum pulang.

Saat mengetahui orang tua Indra belum pulang. Aku meminta izin kepada mama dan papa agar aku diizinkan untuk menginap di rumah Indra dengan ditemani oleh semua sahabatku sampai kondisinya benar – benar sudah sehat.

“ Ma, pa boleh kan Dinda tidur di rumah Indra ?” tanyaku.

“ Emm…!”

“Boleh dong ma…”Langsung saja kupotong ucapan mama.

“Pa…” ujarku memelas.

“Kan aku nggak sendiri di sini. Masih ada Nara, Winda, Rizka, Titan, Aji dan Rina yang akan menemani Dinda” ucapku lagi.

“Iya sayang..! papa dan mama percaya kok sama kamu. Tapi janji ya sama papa dan mama, kamu nggak boleh jadi anak yang manja disini” Papa dan mama mengiyakan permintaanku.

“ Iya pa, ma. Dinda janji kok..!” ucapku.

Aku pun bersorak gembira.

Malam pertama di rumah Indra. Aku dan sahabatku bahu membahu menjaga Indra. Rasa kantuk mulai menyergap, tetapi aku tak mau tidur. Karena aku Ingin menjaga Indra setiap saat. Sahabatku sudah tertidur pulas di sofa yang berada tak jauh dari ranjang Indra. Indra yang melihat keadaanku menyuruhku untuk tidur.

“Din, lebih baik sekarang kamu tidur. Aku nggak mau kamu sampai sakit gara – gara menunggui aku.” Ucap Indra.

“Nggak papa kok In.., ini semua aku lakuin karena aku sayang sama kamu” ucapku.

“Makasih Din.., kamu udah mau berkorban buat aku..! tapi aku nggak pengen kamu memaksakan diri” ujar Indra lembut.

“Aku mau tidur kalau kamu juga tidur. Dan aku maunya tidur di samping ranjang kamu..” ucapku.

“Iya Dinda sayang..”ucap Indra kemudian.

“Malem Cinta..” ucapku lagi.

“Malem juga” balas Indra.

Setelah beberapa hari, kondisi Indra sudah menunjukkan tanda – tanda akan kesembuhannya. Akupun bernafas lega karena kekasih hatiku akan kembali seperti sediakala sebentar lagi.

Keadaan Indra sudah membaik dan di hari Sabtu yang cerah ini, aku dan sahabat – sahabatku meninggalkan rumah Indra untuk pulang ke rumah masing – masing. Karena pada hari Senin nanti sekolah sudah masuk.

“Makasih Cinta, karena kamu udah mau menjagaku hingga aku sembuh seperti saat ini. Dan juga aku sangat berterima kasih pada kalian semua karena sudah mau menemani Dinda untuk menjagaku” ucap Indra saat kami akan pulang.

“Iya In..sama – sama..” ucapku.

“Oke In ! tenang aja..kami selalu setia sama Dinda kok.. itulah arti seorang sahabat” ucap sahabatku kemudian.

Aku sangat berterima kasih kepada semuanya. Terutama Kepada Allah yang telah memberiku kebahagiaan dan memberiku sebuah keluarga yang sangat sayang padaku, juga memberiku sahabat – sahabat yang baik seperti mereka yang menjadikan masa – masa remajaku indah dan penuh warna. Dan juga aku berterima kasih karena Allah sudah memberi kesembuhan pada Indra.

Semenjak saat itu, hubunganku dengan Indra semakin membaik dan persahabatanku dengan Nara, Winda, Rizka, Alya dan Rina semakin erat. Hari – hariku juga menjadi semakin berwarna. Organisasi yang kuhimpun bersama dengan mereka semakin baik dan mendapat pujian dari segala kalangan, dengan berbaikannya aku dan Indra dan juga semua ini tak luput dari kehendak Allah SWT.

“Terima kasih, atas semuanya Ya Allah..” gumamku dalam hati.

Kusadari dari lubuk hatiku yang paling dalam bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik kepada umat yang selalu mendekatkan diri kepada – Nya dan selalu menaati perintah dan menjauhi larangan – Nya. Sekali lagi kuucapkan dalam hati

“Terima kasih atas segala yang telah Engkau berikan pada hamba. Betapa besar Rahmat, Karunia dan Hidayah yang telah Engkau berikan, sehingga hamba dapat merasakan indahnya masa remaja hamba dan arti seorang sahabat untuk hidup hamba..” gumamku.

“ Sungguh Engkau adalah Dzat Yang Maha Mengasihi dan Maha Memberi”. Batinku kemudian.

——–The End——–

made by Sekar. RB

6 thoughts on “Arti Seorang Sahabat

    • @adin >> makassi…:)
      boleh aja,kapan aja kamu mau kalo aku ada waktu luang insyaallah aku pasti ngajarin kamu..:)
      makassi yya dah ngunjungin blogku..;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s